Seputar Dakwah untuk Mendirikan Khilafah
19.54 | Author: Islam Idiologi

Sekarang ini sudah tidak menjadi sebuah realitas yang diperselisihkan bahwa ummat sudah merindukan penerapan Syariat Islam melalui bentuk kekhilafahan. Karena Sistem Khilafah telah menjadi suatu bukti yang sangat valid dan solid terhadap kerinduan tersebut. Saat ini juga telah terbukti bahwa Allah Swt telah mengembalikan kerinduan dan keinginan dalam hati sanubari ummat Islam di seluruh dunia. Hal ini ditandai dengan usaha ummat Islam untuk mengembalikan diberlakukannya aturan Islam dalam kehidupannya. Diantara mereka itu bahkan telah mengabdikan dan mendedikasikan seluruh waktunya bahkan seluruh kehidupannya untuk meninggikan Agama yang Agung ini. Mereka tanpa pamrih berjuang untuk penegakkan Syariat Islam, bekerja untuk penegakkan Islam demi tujuan mulia yaitu mendapatkan ridla Allah Swt.

Mengetahui sebelum beraksi.

Perkara penting yang harus diingat bagi para pengemban dakwah adalah wajibnya bagi mereka mengikuti risalah yang dibawa Rasulullah saw. Itu bisa dilakukan jika mereka memiliki ilmu mengenai risalah tersebut.

Tentu sangat disayangkan jika ada pengemban dakwah yang berbuat tanpa diikuti ilmu. Sejarah telah mencatat, pergerakan kebangkitan yang patriotik melawan penjajah hanya terbatas untuk mengusir penjajah semata, pada saat yang sama mereka juga menerapkan contoh keghidupan sekular bahkan menyesuaikan sekularisme tersebut dengan pola kehidupannya. Bukan meninggalkan bahwan menelanjangi keburukannya. Saat ini juga kita melihat, dibawah bendera Islam beberapa pemerintahan ummat memimpin dengan gaya “percobaan” pada penerapan syaraiat islam, dengan tujuan kemaslahatan, sehingga timbul adaptasi dan kompilasi hukum Islam. Bukan semata-mata ketundukan walaupun Al Qur’an dan Sunnah, walau dalam telah banyak kitab telah menunjukkan detail bagaimana penerapan syarait Islam tanpa terkontaminasi dengan pemikiran berbahasa yaitu sekularisme dan kapitalisme.

Yang jelas Islam telah menempatkan Ilmu dan pemikiran sebagai prasyarat terhadap suatu perbuatan, sehingga hal ini bisa memastikan bahwa perbuatan tersebut merupakan perbuatan yang benar dan shahih yang sesuai dengan Syariat Islam yang benar untuk meraih tujuan yang Mulia.

Pertanyaan berikutnya adalah – jenis Ilmu seperti apa yang dibutuhkan?

Berikut beberapa hal yang patut di pahami dan dikuasi bagi para pengemban dakwah:

i. Meraih pemahaman Islam dan konsep-konsep dasarnya.

Konsep dasar pemahaman Islam harus dimulai dari Aqidah (keyakinan). Karena Aqidah harus menjadi dasar dari seluruh perbuatan yang benar. Seorang muslim harus meyakini asas Islam, karena struktur yang benar terletak kekuatan dan pondasi yang solid. Kita telah menyaksikan -dengan kesedihan yang mendalam- saat dimana orang-orang hebat dengan kekuatan yang besar berbuat hanya dan untuk tujuan Islam. Akan tetapi kemudian meninggalkan aktivitasnya tersebut kepada orang yang lain dengan fondasi agama yang lemah sehingga berikutnya yang mereka miliki hanyalah semangat dan keinginan daripada pengetahuan yang didengungkan. Sehingga menimbulkan efek yang justru menjadi bumerang bagi agama Islam itu sendiri.


ii. Memahami Aturan Syariat.

Islam telah mewajibkan bagi seorang muslim untuk memahami hukum syara menyangkut perbuatan-perbuatannya. Jadi seorang muslim harus menyadari, mengetahui dan memahami kewajiban-kewajibannya. Adalah keliru jika seorang pengemban dakwah, tidak menerapkan syariat Islam dalam kehidupan pribadinya. Sekali lagi kita dapat menyaksikan banyak pengemban dakwah yang membuka diri dan bangga dengan kultur asing. Media yang sangat melenakan seperti film, sinetron dan musik, bahkan dengan hal-hal yang sepele yang mengadopsi kultur Asing yang memang sangat manusiawi untuk dilakukan oleh seorang manusia. Dalam memahami aturan syariat, seseorang siapapun itu harus menyakini hal tersebut secara utuh tidak membatasi batasan hanya untuk sebahagian saja. Karena hal tersebut justru dapat menjerumuskannya. Seharunya aturan Islam yang digali, dipelajari dan dipahami untuk dilaksanakan atau diambil sepenuhnya, secara menyeluruh..


iii. Untuk memahami poin-poin utama dari system kufur.

Rasulullah saw mengetahui pemikiran-pemikiran orang kafir Quraish sehingga beliau mampu mengupkapkan kekeliruan tersebut dan berdakwah untuk menentang mereka. Allah Swt juga mendorong kita untuk hal tersebut. Banyak peristiwa yang telah digambarkan dalam al-Qur’an yang menunjuk pada penyangkalan yang ada terhadap kaum musyrik. Untuk itu seorang muslim harus mewaspadai ideologi yang dominan, sekuralisme, kapitalisme serta komponen-komponennya karena berbeda dengan ideologi Islam. Mengatahui perbedaan tersebut membutuhkan lebih dari sekedar pemahaman yang dangkal dan menjadi suatu anggapan umum yang tidak meyakinkan. Allah Swt telah mengingatkan kita dalam firmanNya:

قُلْ هَـذِهِ سَبِيلِي أَدْعُو إِلَى اللّهِ عَلَى بَصِيرَةٍ أَنَاْ وَمَنِ اتَّبَعَنِي وَسُبْحَانَ اللّهِ وَمَا أَنَاْ مِنَ الْمُشْرِكِينَ

“Katakanlah: “Inilah jalan (agama) ku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan hujah yang nyata, Maha Suci Allah, dan aku tiada termasuk orang-orang yang musyrik”.[QS Yusuf 12]: 108]

Dalam ayat tersebut Allah Swt telah memerintahkan untuk menggali ilmu secara tepat. Saat ini kita kita dipaksa untuk memahami globalisasi, demokrasi, kebebasan, dialog lintas agama, dan sekularisme diantara banyaknya ide-ide lain yang cacat, padahal hal tersebut tidak boleh diadopsi oleh ummat muslim.

iv. Pengetahuan yang benar pada pengemban dakwah Islam.

Bila seorang muslim mempelajari Islam secara benar dia akan menemukan bahwa Islam telah ditempatkan oleh fuqaha dengan otoritas yang benar. Ini sebagai bagian paling penting untuk menjaga aturan-aturan Islam dan kaum muslim. Keharusan ini juga akan dirasakan ketika otoritas para pangemban dakwah tidak berada pada posisinya unutk mengembalikan kehidupan islami tadi. Otoritas yang benar adalah Khilafah untuk penegakan Islam. Rasulullah Saw Bersabda:

كَانَتْ بَنُو إِسْرَائِيلَ تَسُوسُهُمْ الْأَنْبِيَاءُ كُلَّمَا هَلَكَ نَبِيٌّ خَلَفَهُ نَبِيٌّ وَإِنَّهُ لَا نَبِيَّ بَعْدِي وَسَيَكُونُ خُلَفَاءُ فَيَكْثُرُونَ قَالُوا فَمَا تَأْمُرُنَا قَالَ فُوا بِبَيْعَةِ الْأَوَّلِ فَالْأَوَّلِ أَعْطُوهُمْ حَقَّهُمْ فَإِنَّ اللَّهَ سَائِلُهُمْ عَمَّا اسْتَرْعَاهُمْ

“Sesungguhnya tidak akan nabi setelahku, lalu akan ada para khilafah hingga jumlah mereka banyak.” Mereka bertanya,” Apa yang Anda perintahkan kepada kami?” Nabi saw. Menjawab,” Tunaikanlah bai’at khalifah yang pertama saja, dan yang pertama. Berikanlah kepada mereka haknya, karena Allah nanti akan menuntut pertanggungjawaban mereka atas rakyat yang diurusnya” (HR Bukhari dari Abu Hurairah).

Jadi jalan yang paling benar untuk penerapan Islam secara menyeluruh adalah Khilafah. Ini artinya untuk mengembalikan aturan Islam secara menyeluruh, caranya adalah dengan jalan politik yang mana berikutnya adalah dibutuhkan pemahaman Islam melalui partai politik


Pendek kata, setiap insane muslim harus mempelajari, mencari dan menggali pengetahuan Islam secara terus menerus dan harus selalu berusaha keras meningkatkan mutu pemahamannya.


Mengemban Dakwah

Jika seorang muslim telah mendapatkan pengetahuan yang benar maka dia harus segera melaksanakan pengetahuannya tersebut secepatnya. Ilmu ini tidak akan bermanfaat bagi manusia bagaimanapun dia mendapatkannya dan bagaimana faqih dirinya. Hukum syara telah mengatakan bahwa hal yang paling esensial dalam penegakkan Islam dan mengembalikan khilafah adalah mengemban dakwah, yaitu mengajak manusia untuk menerapkan Islam.

Allah Swt berfirman:

ادْعُ إِلَى سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ وَجَادِلْهُمْ بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik (QS al-Nahl [16]: 125).

Islam juga telah memberikan perintah bahwa dakwah adalah wajib dan harus dilaksanakan segera setelah mempunyai ilmunya. Tidak pernah ada dalam sejarah Islam bahwa dakwah adalah berdiam diri dirumah setelah mengetahui pengetahuan Islam. Kalau kita menilik beberapa riwayat para sahabat (ra) adalah bukti dalam hal ini. Rasulullah saw telah mengingatkan dalam sabdanya:

بَلِّغُوا عَنِّي وَلَوْ آيَةً

Sampaikan apa saja yang dariku walaupun itu hanaya satu ayat (HR al-Bukhari, al-Tirmidzi, dan Ahmad dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash).

Berikut adalah beberapa hal yang dibutuhkan penting untuk selalu dicamkan dalam benak dan pemikiran seorang pengemban dakwah:
Dakwah harus fokus.
Seorang muslim harus mengungkapkan dakwah secara jelas, terus terang, dan tidak ditutu-tutupi. Kita sadari ketiadaan khilafah menjadikan dakwah ini lemah dan tidak terus terang. Untuk itu Islam membutuhkan gerbong dakwah untuk menuntaskan permasalahan ini. Ummat islam harus mengungkapkan rencana jahat pihak asing terhadap kelangsungan negeri ini, para agent mereka telah menerapakan ideologi yang rusak yang membuat jarak antara sesama muslim dari kesatuan ummat Islam. Ummat Islam harus menyadari dan memahami bahwa konsep tentang nasionalisme, pragmatisme yang yang salah telah diterapkan secara terencana dan berkesinambungan sehingga ummat menyukai hal ini.
Dakwah seharusnya ditujukan untuk pengabdian kepada Allah Swt.
Seorang pendakwah dakwah seharusnya tidak mencari keuntungan baik atas harta maupun kedudukan dari dakwah yang dibawakannya. Akan tetapi hanya untuk kepentingan Allah semata. Prinsip ini harus sangat dipahami dan tidak boleh terpisahkan dari kehidupan serta keyakinan, dan tidak boleh sekejap pun berubah hanya karena bujukan manusia atau yang lainnya.
Tidak mencampurkan dakwah dengan ide bathil
Rasulullah saw telah memberikan contoh yang sangat gamblang bahwa beliau menyampaikan risalahnya tanpa mengikuti rasa egois beliau ke dalam dakwahnya. Namun beliau berdakwah murni karena perintah Allah Swt.
Panggilan dakwah harus diemban tanpa kompromi.
Tidak dibolehkan sama sekali untuk merubah pesan, isi atau materi dakwah yang disampaikan Rasulullah saw demi menyenangkan seseorang atau sekelompok orang, atau untuk mendapatkan dukungan. Dakwah harus jujur, terus terang dan gamblang namun harus disampaikan secara bijak, menggunakan tutur kata yang tepat dan cara yang enak untuk disampaikan tapi tidak merubah isinya. disampaikan dengan benar serta jujur. Terlebih dakwah tidak boleh sama sekali disampaikan dengan mencampurkan dengan ide-ide barat atau di pengaruhi ideologi asing. Dakwah harus disampaikan secara murni dan jernih yang datang dari Islam.
Pengemban Dakwah harus siap menghadapai cobaan dan godaan.
Satu-satunya jalan untuk menghadapi hal ini adalah ilmu benar atas ide-ide penting Islam seperti Qada’ dan Qadr, rizki datangnya hanya dari Allah Swt, atau tawakal (bergantung hanya kepada Allah Swt). Para Pengamban dakwah juga haruslah melengkapi diri mereka dengan pengetahuan mengenai riwayat Rasul-Rasul terdahulu beserta sahabat-sahabatnya dan bagaimana mereka menghadapi banyak kesulitan sehingga akhirnya mereka harus mendekat kepada Qur’an satu-satunya yang memiliki kemampuan untuk memotivasi, menginspirasi dan member kekuatan.


Bekerja bersama Partai Islam

Allah Swt telah mewajibkan dakwah bagi setiap Muslim. Allah Swt juga telah mewajibkan pada ummat untuk mendirikan setidaknya satu golongan yang menyeru kepada kebaikan yaitu Islam, untuk menyeru kepada yang ma’ruf (semua yang baik) dan mencegah yang munkar (semua yang buruk). Allah Swt berfirman:

وَلْتَكُن مِّنكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَأُوْلَـئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ

” Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.” [Al-Imran: 104]

Ayat ini mewajibkan bagi setiap ummat Islam untuk membentuk satu kelompok. Tugas ini akan efektif maka dibutuhkan usaha bersama. Lebih jauh Rasul saw bertugas bersama para sahabat sebagai satu kelompok untuk merubah masyarakat kufur dan menggantinya menjadi masyarakat yang Islami.

Ada beberapa poin untuk dipertimbangkan sebelum memilih kelompok atau kelompok-kelompok yang benar untuk memastikan bahwa usaha yang diambil adalah dengan penuh kesadaran. Dengan segala usaha ini, Allah Swt akan mencatat kapatuhan kita pada-Nya dan dengan demikian memilih kelompok mana saja tidak diperbolehkan, dibandingkan kelompok atau kelompok-kelompok yang memenuhi kewajiban menurut ayat ini haruslah dipertimbangkan. Inilah beberapa poin-poin tersebut :

1. Kelompok ini haruslah kelompok Islam.

Allah Swr menyebutkan dalam ayat ini kata ‘al-khair’, yang berarti Islam. Jadi bila mereka bekelompok dalam kelompok nasionalis, demokratis, kapitalis, sosialis atau yang lainnya, mereka tidak akan memenuhi perintah dalam ayat ini. Bahkan bergabung dalam kelompok yang asasnya berasal dari ide-ide asing atau semisalnya adalah dosa, sebagaimana menyerukan ide-ide ini atau semacamnya adalah haram.

2. Kelompok ini haruslah menyerukan isu-isu penting, sebagaimana ditegaskan dalam Islam.

Isu penting saat ini adalah penegakan kembali khilafah. Sebab, khilafah yang akan menerapkan Islam. Tanpa khilafah, tidak akan mungkin bagi masyarakat dapat mentaati seluruh hukum Islam. Dengan kata lain menyerukan Khilafah adalah sebuah pekerjaan politik, sebagaimana melibatkan perubahan masyarakat untuk membangun kekuasaan dan merubah kekuasaan berasas non Islam yang ada saat ini. Jadi kelompok ini haruslah sebuah kelompok atau partai politik.

3. Kelompok ini haruslah memiliki metode yang jelas dalam keanggotaan.

Telah banyak diamati bahwa banyak kelompok yang dinodai dengan konflik, pertentangan, pertikian, dan semacamnya. Hal ini disebabkan karena para anggota dari kelompok-kelompok ini tidak miliki persamaan tujuan dan ide. Biasanya orang-orang antusias untuk memilih atau bergabung dengan suatu kelompok hanya karena mereka ingin menunjukkan bahwa mereka antusias untuk bekerja bersama-sama tapi sayangnya tanpa ide dan tujuan yang sama atau kabur.

4. Kelompok ini haruslah memiliki sebuah ‘proses pembinaan’.

Harus memiliki cara untuk membina dengan baik anggota baru dalam kelompok sebagaimana membina para anggota-anggotanya. Pembinaan ini haruslah ditangani dengan serius dan harus diikuti oleh seluruh anggota. Ini untuk memastikan mereka dibina dan dibangun dengan pembinaan Islam, memurnikan tujuan dan pemikiran mereka, membangun konsep-konsep mereka dan menguatkan keputusan mereka. Jadi semangat dan antusias awalnya dipindahkan menjadi ilmu yang bergema dan pekerjaan yang konsisten. Sangat disayangkan bahwa banyak yang memulai bekerja untuk Islam dan kemudian menghentikannya; ini dapat digolongkan sebagai kekurangan dalam pembinaan dengan Islam dalam kelompok ini.

5. Kelompok ini haruslah jelas dalam bersuara, dan tegas dalam bertindak.

Untuk menyeru kepada yang ma’ruf dan mencegah yang munkar membutuhkan para Muslim untuk menentang yang salah dan membela yang benar.

6. Kelompok ini haruslah mempelajari fakta secara jelas dan komprehensif.

Islam memerintahkan bahwa fakta dimana kelompok ini bertugas haruslah dipahami. Termasuk juga mempelajari dengan baik pemikiran-pemikiran dan ide-ide yang ada di masyarakat juga makar-makar dan rencana-rencana kaum kafir dan agen-agen penguasa di negeri-negeri kita. Dengan hanya memiliki pemahaman umum mengenai fakta tidak akan memungkinkan masyarakat untuk memahami kenyataan mendasar dari permasalahan yang kita hadapi.

7. Kelompok ini tidak boleh merendahkan atau menyalahkan ummat karena mereka tidak mau bergabung atau atau tidak mau membela Islam.

Kelompok ini justru harus mengajak ummat untuk bangkit, menyemangati mereka, mengajak mereka untuk bangkit dari tidurnya dan mengadakan perubahan kearah yang benar.

8. Kelompok ini haruslah memiliki suasana kuat yang menyatukan para anggotanya.

Suasana ini haruslah suasana yang murni dan haruslah berdasarkan pada pencarian ridho Allah Swt. Kekuatan ide membuat seseorang bersedia untuk mengorbankan waktu dan usahanya.

Kesimpulannya adalah ketiga potin besar tersebut yaitu Ilmu, mengemban dakwah dan bergabung dengan partai Islam akan menjadi cara praktis untuk menegakkan Khilafah. Jadi sesudah ini, kami ingin mengatakan bergabunglah dengan mereka yang sungguh-sungguh/tulus untuk meraih tempat tertinggi di Jannah. Kuatkan ketetapan hati anda, untuk Ummah yang merindukan perubahan, dan perubahan ini membutuhkan usaha. Semoga usaha kita diganjar pahala yang berlipat ganda di mata Allah Swt dan semoga kita menjadi orang-orang yang dicintai Rasul saw. Beliau bersabda:

بَدَأَ الْإِسْلَامُ غَرِيبًا ثُمَّ يَعُودُ غَرِيبًا كَمَا بَدَأَ فَطُوبَى لِلْغُرَبَاءِ قِيلَ يَا رَسُولَ اللَّهِ وَمَنْ الْغُرَبَاءُ قَالَ الَّذِينَ يُصْلِحُونَ إِذَا فَسَدَ النَّاسُ

“Islam dimulai dari sesuatu yang asing, dan akan kembali menjadi sesuatu yang asing, jadi berikan kabar gembira bagi mereka yang terasing.” Ditanyakan,”Siapakah mereka yang terasing itu, Ya Rasul Allah?” Beliau bersabda,”Mereka adalah yang memperbaiki masyarakat ketika terjadi kerusakan.” (HR Ahmad dari Abdurrahman bin Sannah).


Wal-Lâh a’lam bi al-shawâb.

Abee Ramadhani –Lajnah Tsaqafiyyah

sumber: http://hizbut-tahrir.or.id/2009/08/06/seputar-dakwah-untuk-mendirikan-khilafah/
DEMOKRASI TIDAK MENGHASILKAN KESEJAHTERAAN
07.31 | Author: Islam Idiologi
Pada 20 - 22 Oktober lalu, PPIM (Pusat Penelitian Islam dan Masyarakat) UIN (Universitas Islam Negeri) Syarif Hidayatullah, Jakarta bekerjasama dengan La Trobe University Australia, menyelenggarakan Workshop Internasional dengan tema “Developing Constructive Responses to Tensions in The Domestic and Regional Environtment: Dialogue Across The Cultural and Religious Divide”. Acara ini diikuti oleh sekitar 30 peserta dari Indonesia, Australia, Malaysia, Philipina dan Thailand. Dari Indonesia selain para peneliti dan dosen dari berbagai perguruan tinggi, diundang juga Jurubicara Hizbut Tahrir Indonesia dan wakil JIL.

Ada hal menarik, dalam pidato pembukaan yang dihadiri oleh Bill Farmer, Dutabesar Australia untuk Indonesia, Prof. Dr. Azyumardi Azra (Direktur Sekolah Pasca Sarjana, UIN Jakarta) menyatakan bahwa meski proses demokratisasi pada era reformasi di Indonesia dinilainya semakin mantap, tapi ternyata semua itu tidak secara otomatis membuat rakyat Indonesia menjadi semakin sejahtera. Karenanya, kata dia, diperlukan usaha untuk membuat demokrasi di Indonesia beriringan dengan upaya peningkatan kesejahteraan rakyat.

Diskusi tentang demokrasi (dan hubungannya dengan Islam) makin hangat dalam sesi pertama yang membahas tema Islam, Democratisation Process and Political Stability in ASEAN Countries dengan pembicara Dr. Bahtiar Effendy (Dosen Sekolah Pasca Sarjana, UIN Jakarta) dan pembahas Zainudin S. Malang (Direktur Bangsamoro Centre for Law and Policy, Philipina), Chandra Muzaffar (Universiti Sains Malaysia), Waleed Aly (Monash University Australia), Noorhaidi Hasan (UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta).

Bahtiar Effendy dalam presentasinya menegaskan bahwa secara umum umat Islam tidak masalah terhadap demokrasi. Memang ada yang menolak, tapi katanya itu sedikit. Dia menyebut ada sejumlah ajaran Islam yang selaras dengan gagasan demokrasi, seperti keadilan, kesetaraan, musyawarah dan sebagainya. Chandra Muzaffar menanggapi presentasi Bahtiar Effendy dengan sangat baik. Dia mengatakan bahwa harus diakui ada dua pendapat besar di kalangan umat Islam mengenai demokrasi. Satu menerima dengan mengatakan bahwa Islam selaras dengan demokrasi seperti yang dijelaskan oleh Bahtiar. Satunya lagi menolak. Intinya gagasan demokrasi tentang kedaulatan di tangan rakyat bertentangan dengan prinsip Islam mengenai kedaulatan atau sovereignty Allah (hakimiyatullah).

Dalam sesi tanggapan, Jubir HTI Muhammad Ismail Yusanto menegaskan bahwa apa yang disampaikan oleh Pak Azra itu betul. Demokrasi memang telah memberikan jalan kepada rakyat Indonesia untuk memilih pemimpinnya secara bebas, tapi faktanya kebanyakan dari mereka tetap saja hidup miskin. Lihatlah, Indonesia yang kini memang dikenal sebagai negara demokratis sebagai buah dari gerakan reformasi pada tahun 1998, tapi meski 10 tahun reformasi telah berjalan, kebanyakan rakyat masih saja hidup dalam penderitaan. Dengan garis kemiskinan 2 dollar/orang/hari , setara dengan subsidi sapi di Eropa, masih terdapat lebih dari 100 juta rakyat Indonesia yang tergolong miskin, dengan jumlah angka pengangguran yang masih sangat tinggi. BPS menyebut 10,2% dari jumlah angkatan kerja.

Mengapa bisa begitu? Jubir HTI memberikan penjelasan lebih lanjut, meski bebas memilih pemimpin, tapi demokrasi tidak memberikan kepada rakyat hak untuk menentukan sistem apa yang harus dipakai pemimpin terpilih untuk mengatur negara, baik dalam bidang ekonomi maupun bidang-bidang lainnya. Asumsinya, perwakilan rakyat dalam parlemen akan menetapkan itu dengan sebaik-baiknya, seperti adagium “vox populei vox dei” (suara rakyat adalah suara tuhan). Tapi faktanya, tidaklah demikian. Anggota parlemen ternyata tidak selalu bekerja demi rakyat. Sangat banyak bukti, anggota parlemen menyusun undang-undang bukan demi kepentingan rakyat tapi demi partai atau kelompoknya, bahkan demi kepentingan pemilik modal dari dalam maupun luar negeri. UU Migas, UU SDA dan UU Penanaman Modal adalah sebagian contoh dari UU yang sarat kepentingan pemodal. Bahkan UU Kelistrikan telah dibatalkan oleh Mahkamah Konstitusi karena dinilai terbukti bertentangan dengan prinsip penjagaan kepentingan rakyat. Dengan undang-undang seperti itu, bagaimana bisa diharap pemerintah bekerja demi kesejahteraan rakyat?

Dalam Halqah Islam dan Peradaban yang diselenggarakan oleh DPP Hizbut Tahrir Indonesia pada 23 Oktober lalu bertajuk “Krisis Finansial Global, Tanda Nyata Runtuhnya Kapitalisme?” yang menghadirkan pembicara Rizal Mallarangeng (Direktur Freedom Institute), Ahmad Deni Daruri (Direktur CBC) dan M. Ismail Yusanto (Jubir HTI) di Media Center Jakarta yang dipadati oleh peserta hingga banyak yang tidak kebagian tempat duduk, soal fakta terjadinya krisis keuangan yang berawal dari Amerika Serikat menjadi topik diskusi hangat.

Dalam kesempatan itu, Jubir HTI menjelaskan bahwa sesungguhnya krisis finansial global itu bukanlah hal yang mengherankan. Dalam kajian Ikatan Sarjana Ekonomi Islam Indonesia, dalam 100 tahun terakhir ini telah terjadi tidak kurang dari 20 kali krisis. Ini wajar terjadi karena, dalam istilah Dr. Abdul Muhsin Thahir Sulaiman dalam kitab Ilajul Musykilah al Iqtishadiyah bil Islam (Memecahkan Problem Ekonomi dengan Cara Islam), pertumbuhan ekonomi dalam sistem kapitalis itu bersifat siklik. Artinya, ia mungkin saja tumbuh, tapi pertumbuhan yang sedang menuju puncak itu setelah mencapai puncak akan jatuh kembali. Demikian seterusnya. Mengapa? Karena pertumbuhan dalam sistem ekonomi kapitalis bukanlah pertumbuhan riil, melainkan pertumbuhan semu yang semata dipicu untuk bertambahnya uang di sektor non riil (keuangan). Pertumbuhan semacam ini sangat rentan terhadap gejolak karena sebagiannya didorong oleh kegiatan spekulasi atau judi seperti dalam kegiatan lantai bursa. Ketika terjadi sentimentnegative akibat rumor politik atau lainnya, harga saham akan dengan mudah melorot tajam seperti yang terjadi di Amerika Serikat.

Dalam konteks demokrasi, krisis finansial yang saat ini tengah melanda AS dan dampak buruknya telah menyentuh Indonesia, juga merupakan bukti nyata kelemahan demokrasi. Krisis ini telah menimbulkan kekacauan ekonomi di negara yang selama ini disebut kampiun demokrasi. Sejumlah lembaga keuangan besar, yang diantaranya telah berumur ratusan tahun, bangkrut meninggalkan tumpukan masalah. Bila dinilai dari ukuran demokrasi, kurang demokratis apa Amerika Serikat, tapi meski begitu, tetap saja ia tak terhindar dari terpaan krisis.

Dengan melihat fenomena krisis finansial di AS dan kenyataan kondisi ekonomi Indonesia, membuktikan bahwa demokrasi memang tidak secara otomatis akan menghasilkan kesejahteraan rakyat. Bahkan sebaliknya, dengan demokrasi liberal seperti yang sekarang tengah dipraktekkan di Indonesia dan Amerika Serikat, dimana untuk menggerakkan mesin politik memerlukan dana yang sangat besar sehingga peran pemilik modal menjadi sangat sentral, tak pelak lagi undang-undang atau peraturan -peraturan yang disusun oleh wakil rakyat atau kebijakan yang diambil oleh pemimpin terpilih akan cenderung berpihak kepada pemilik modal sebagai imbal jasa atas dukungan dana yang diberikan.

“Di sinilah relevansinya prinsip sovereignty belong to gods atau kedaulatan Allah dimana dengan prinsip ini sistem, perundang-undangan dan kebijakan yang diambil oleh pemimpin harus berdasar syariah”, jelas Jubir HTI lebih lanjut merespon pernyataan Azyumardi Azra tadi. Dengan syariah, pemimpin tidak bisa bekerja seenaknya. Dia harus mengacu kepada syariah dalam setiap kebijakannya, termasuk di bidang ekonomi. Sehingga alokasi sumber daya ekonomi didasarkan pada prinsip yang benar, tidak didasarkan kepada kepentingan imbal budi kepada para kapitalis pemilik modal yang telah mendukung karier politiknya. Dengan syariah, alokasi atau distribusi kekayaan akan dilakukan dengan adil. Negara melalui kebijakan dan peraturan yang didasarkan pada syariah, benar-benar akan berperan sentral dalam distribusi kekayaan kepada seluruh rakyatnya. Sumber daya alam yang notabena menurut syariah adalah milik rakyat misalnya, akan dikelola oleh negara untuk kepentingan rakyat. Tidak seperti sekarang, para kapitalis berebut melalui tangan penguasa yang telah berutang budi padanya, untuk mengeksploitasi sumberdaya alam itu. Akibatnya, hasilnya lebih banyak dinikmati oleh perusahaan swasta itu. Bukan oleh rakyat. Rakyat Indonesia yang memiliki sumberdaya alam melimpah itu tetap saja hidup miskin.

Dengan prinsip syariah, kegiatan ekonomi ribawi dan spekulasi atau judi seperti yang terjadi di lantai bursa dan perbankan konvensional tidak akan diteruskan karena praktek ekonomi semacam ini membuat ekonomi tidak pernah stabil. Juga menghasilkan ketidakadilan ekonomi. Sebagai gantinya diterapkan sistem keuangan yang benar, dimana kegiatan keuangan akan selalu berhubungan dengan sektor riil (melalui kegiatan musyarakah atau mudharabah). Sementara, mata uang kertas yang tidak mampu menyimpan kekayaan secara riil dan sangat rentan terhadap tekanan inflasi, akan diganti dengan dinar dan dirham atau mata uang yang ditopang seratus persen oleh emas berdasar nisbah syar’iy (1 dinar sama dengan 4,25 gram emas). Dengan mata uang seperti ini, kemampuan beli masyarakat akan terjaga. Sebagai contoh, harga kambing di masa nabi adalah 1 dinar. Bila 1 dinar kira-kira sama dengan Rp 1,2 juta, maka itu berarti harga kambing selama lebih dari 1400 tahun tidaklah berubah.

Penjelasan Jubir HTI seperti ini juga ketika menyampaikan materi “Aspirasi Politik Hizbut Tahrir Indonesia” dalam workshop “Muncul dan Berkembangnya Varian Keagamaan Islam Kontemporer di Indonesia: Islam, Negara Bangsa dan Globalisasi” yang diselenggarakan oleh Pusat Penelitian Kemasyarakatan dan Kebudayaan, LIPI, Jakarta, bersama Luthfie Assyaukani (JIL) pada 30 Oktober lalu. Bahwa inti asprirasi HTI adalah penerapan syariah, dan mengapa syariah harus diterapkan adalah untuk menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat termasuk dalam menghadapi krisis ekonomi.

Ketika salah seorang peserta workshop menanyakan, bila HTI menawarkan syariah untuk solusi krisis ekonomi, apa solusi yang ditawarkan oleh JIL? Luthfie setelah berputar-putar, akhirnya menjawab tidak ada. Ia bahkan menegaskan penilaiannya bahwa kapitalisme tetaplah sistem yang terbaik. Bukan syariah.???


sumber: suara-islam.info

Krisis Global, Jepang Terkena Imbas
15.47 | Author: Islam Idiologi
Perekonomian Jepang tercatat terburuk selama triwulan pertama tahun ini, dengan Produk Domestik Bruto menyusut 4%.

Penurunan ini merupakan keempatkalinya, melanjutkan kemerosotan 3% pada bulan Oktober-Desember.

Tetapi para ekonom memperkirakan pertumbuhan akan terjadi dalam bulan-bulan mendatang setelah terjadi sedikit peningkatan produksi pada Maret lalu.

Negara dengan pertumbuhan ekonomi kedua terbesar di dunia ini, sangat mengandalkan ekspor produk, terguncang akibat penurunan ekonomi global.

Wartawan BBC di Tokyo Roland Buerk melaporkan, pembelian mobil dan barang-barang elektronik produk Jepang oleh konsumen berbagai negara tercatat sangat sedikit.

Penurunan terakhir ini merupakan yang terbesar sejak 1955.

Kondisi ini nampak dari angka perekonomian tahunan yang turun sekitar 15,2%, dibanding dengan 6,1% penurunan di AS yang terjadi pada periode yang sama.


sumber : hizbut-tahrir